Back to Archive

Persamaan Kopi dan Cabe

Siapa orang pertama di dunia yang menyulap cabe menjadi sambal yang uenak dan kaya rasa? Pernahkah kita bertanya bagaimana awal mulanya cabe yang konon adalah makanan setan (jika dimakan mentah2) kemudian disulap menjadi sambal siap konsumsi yang membuat kita ketagihan. Atau pernahkan kita bertanya kritis bagaimana ceritanya sebuah perusahaan di Belanda tiba-tiba menjual sambal dengan bermerk CONIMEX yang variannya lebih dari 60 Jenis? Gobloknya lagi¬†masyarakat kita membeli dan bilang enak. “Padahal jelas sekali bahwa sambal itu hasil dari kreativitas mbah-mbah kita dan jelas sekali Belanda (dunia barat) telah mengangkangi hasil kreativitas nenek moyang kita. WOT HAPPEN BOI”

..
5 – 10 tahun belakangan kopi tiba-tiba menjadi idola baru di Indonesia, bahkan di dunia. Semua orang mulai latah bilang “Aku Pecinta Kopi, pessionku di kopi atau mboh lah”. Dalam hatiku bertanya, elu cinta kopi apa cinta cuannya? Mikir dong!! Ratusan tahun kopi ditanam di Indonesia tapi kita baru mau mengenalnya dalam 5 tahun terakhir? bahkan sains dan teknologi sudah berkembang muaju kita baru saja pamer lisensi? WOT HAPPEN BOI? Cinta boleh-boleh saja, pession boleh saja tapi kenali dong. Cari tahu dong agar kita bisa mikir jauh kedepan bahwa kopi tidak akan bernasib sama dengan cabe, minyak, batu berlian, emas, atau apapun yang kita jumpai di tanah keramat yang bernama Nusantara ini. Agar bisa kita olah dan kembangkan sendiri dan tidak ikut-ikutan teori pihak luar.
..
Jika boleh jujur, kita sendiri yang egois, kita sendiri yang bodoh. Melihat gunung dan laut hanya dengan mata buta. Hati, pikiran, nalar kita kemana? Gunung dan lautan bukannlah benda mati yang kadang sering ditafsirkan sebagai tempat berbahaya, sumber bencana. Duh piye iki rek, buka mata lebar-lebar berapa banyak ilmuwan, arkeolog, seniman, bahkan wisatawan datang ke Indonesia untuk mengolok2 kita bahwa Indonesia is Unique Country. bahkan kita bangga di teliti oleh mereka.
..
Yuk rek yang merasa cinta kopi, kita gali lebih dalam tentang kekayaan sebenarnya kopi Indonesia. Jangan hanya bangga dan bilang “Indonesia is Coffee Paradise” tanpa ada gerak pikiran, laku, hati, dan kontribusi aktif agar kelak adik-adik kita tidak bangga lagi menjadi exportir kopi. Karena jika kita mampu membuat pasar disini ngapain kita harus jual ke luar negeri yang katanya lebih murah, mencekik, atau apalah mboh wes. [Pseudo Indonesia]

Opinion by. Agoessam | @agoessam
Traveller, film maker, coffee lover

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Archive