Back to Archive

Kopi dan Sejarah Revolusi

kopi yang biasanya hanya di minum saat kita sedang santai ternyata memiliki sejarah dalam budaya intelektual, bagaimana tidak, seperti revolusi amerika dan perancis di awali dari stand kopi atau yang biasanya disebut dengan caffe. Dalam revolusi perancis sendiri para propagandis atau para ahli propaganda mengobarkan semangat (menghasut kalo kata bangsawan jaman itu hehe) rakyat perancis melalui diskusi yang bertempat di caffe itu.

Alasan kopi berpengaruh positif buat otak dan tubuh

Kafein memberi efek stimulan pada penampilan fisik dan mental. Kafein menjaga kita tetap terjaga, menghilangkan kelelahan dan kantuk, serta memerbaiki mood, daya ingat, dan konsentrasi. Mekanisme kerjan kafein adalah dengan memblokir reseptor adenosin. Adenosisn adalah neurotransmitter yang menenangkan

Setelah mengonsumsi kafein, seseorang bisa meraih pencapaian intelektual yang lebih tinggi. Berkat kafein pula, aktivitas motorik dan stimuli panca indera jadi lebih lancar. Contohnya, seorang tukang ketik akan bekerja lebih cepat, dengan kesalahan lebih sedikit setelah mengonsumsi kopi. Di samping kafein, kopi juga mengandung asam fenolat yang bersifat antioksidan.

Awal mula kopi dan sejarah revolusi

Awalnya orang-orang Eropa memperlakukan kopi sebagai bahan medis yang memberikan efek positif buat tubuh. Harganya mahal. Umumnya dikonsumsi masyarakat kelas atas. Pada 1650-an, ketika penjaja minuman lemon di Italia mengikutsertakan kopi sebagai barang jualannya, sementara kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan, minuman ini mulai menemukan dimensi sosialnya; dikonsumsi sembari berbincang-bincang.

Saat kopi mulai menyebar ke negara-negara besar Eropa, cerita lama berulang kembali. Muncul pihak-pihak yang menentangnya. Menurut Linda Civitello dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People, pada 1679, dokter-dokter dari Prancis membuat catatan buruk tentang kopi. Dikatakannya, “…dengan penuh kengerian bahwa kopi membuat orang tak lagi doyan wine.” Serangan ini disusul oleh seorang dokter muda yang menganggap kopi bisa mengakibatkan keletihan, menimbulkan hal-hal buruk pada otak manusia, menggerogoti fungsi tubuh, serta biang keladi impotensi.

Pihak yang membela pun segera bersuara. Seorang dokter, juga asal Prancis, Philippe Sylvestre Dufour, menerbitkan buku yang menilai positif minuman eksotik ini. Lalu pada 1696, seorang dokter Prancis juga mengatakan kopi baik untuk tubuh dan menyegarkan kulit. Namun, sebagaimana akan kita lihat nanti, oposisi terhadap kopi tak berhenti sampai di sini.

Ketika mulai menemukan dimensi sosialnya, kopi tak lagi sekadar minuman yang rutin dikonsumsi, tapi juga terlibat dalam banyak perubahan sosial-politik di Eropa. Linda Civitello mengatakan, untuk kali pertama orang (Eropa) memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial yang bersifat politis. Sebagaimana ditulis situs The Economist pada 7 Juli 2011, “Back to the coffee house”, pada era tersebut konsep media massa belum lagi dikenal. Berita tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialogis.

Para penguasa yang deg-degan, karena khawatir hal-hal politik dibincangkan orang di kedai-kedai kopi, mulai ambil kuda-kuda. Kekhawatiran itu tak berlebihan. Sejarawan Prancis, Michelet, dikutip Mark Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World, menggambarkan penemuan kopi sebagai revolusi yang menguntungkan dan mampu memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru, bahkan memodifikasi temperamen manusia. Ide-ide yang beredar dalam diskusi di kedai-kedai kopi pada akhirnya terakumulasi dalam peristiwa Revolusi Prancis.

Di Jerman, popularitas kopi mengganggu penguasanya, Frederick the Great. Pada 1777, dia mengeluarkan manifesto yang mendukung minuman tradisional Jerman, bir: “Menjijikkan melihat meningkatnya kuantitas kopi yang dikonsumsi rakyatku, dan implikasinya, jumlah uang yang keluar dari negara kita. Rakyatku harus minum bir. Sejak nenek moyang, kemuliaan kita dibesarkan oleh bir.” Hal serupa sempat terjadi di Prancis ketika kopi mulai menyaingi wine. Sementara di Inggris, King George II memusuhi kopi lantaran orang-orang yang berkumpul di kedai-kedai kopi kerap mengolok-olok dirinya.

Namun tak ada perlawanan paling keras terhadap eksistensi kedai kopi di London ketimbang Women’s Petition tahun 1674, yang memrotes terbuangnya waktu para lelaki di kedai kopi, serta tak memungkinkannya perempuan berkunjung ke kedai kopi, sebagaimana di Prancis. Lalu, pada 29 Desember 1675 Raja Inggris Charles II mengeluarkan pernyataan tentang Pelarangan Kedai Kopi, dengan alasan membuat orang mengabaikan tanggungjawab sosial serta mengganggu stabilitas kerajaan. Suara-suara protes pun bermunculan di London. Klimaksnya, dua hari sebelum aturan itu berlaku, raja mengundurkan diri.

Voltaire, filsuf dan politikus yang berperan penting dalam Revolusi Prancis, dalam sehari menghabiskan 40 gelas kopi yang dicampur cokelat.Kopi itu membuat otak Voltaire jadi lebih encer berpikir, sehingga ia bisa melancarkan ide demokrasi moderen yang mengubah sejarah Prancis, dan wajah dunia politik di seluruh dunia

Revolusi perancis berawal dari sini nih

Adalah seorang warga Italia bernama Francesco Procopio Dei Coltelli yang mendirikan kafe di Paris pada tahun 1686. Semula Procopio bekerja di sebuah warung kopi milik seorang warga Armenia, kemudian membuat kafe ini. Bosnya yang kemudian pindah ke London sempat membuat Procopio menganggur. Namun, ini tak lama karena ia kemudian berkongsi dengan rekannya untuk berjualan di Pameran Raya Saint German.

Seusai pameran itu, Procopio melanjutkan berjualan kopi. Saat itu kafe belum begitu dikenal. Warung kopi Procopio pun hanya menyediakan tempat mengobrol dan minum kopi. Tradisi makan di luar juga relatif baru. Ia lalu menyewa sebuah rumah dan digunakan untuk berjualan tidak hanya kopi, tetapi juga minuman lainnya. Procopio yang berasal dari Italia sangat menikmati kehidupan dan kultur Paris. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Francois Procope Cateau, kafenya kemudian diberinya nama Le Procope.

Tempat berjualan ini sempat berpindah hingga menetap di bangunan yang ada Rue de l’Ancienne Comedie yang saat itu ramai karena terdapat teater. Otomatis seniman kerap melalui jalan itu dan mampir di Procope. Tempat ini menjadi ajang kumpul kalangan seniman dan juga tempat untuk membaca. Sangat mungkin kebiasaan untuk membaca dan berdiskusi di sebuah kafe berasal dari kebiasaan di Paris ini.

Procope menjadi tempat untuk berbagi informasi hingga dikenal sebagai tempat untuk pencerahan karena kalangan intelektual pun berkumpul di tempat ini. Beberapa seniman dan intelektual Paris seperti JJ Rousseau, Diderot, Voltaire, dan Pirot, menjadi pelanggan setia. Ketika memasuki abad ke-18 diskusi di tempat itu makin panas karena menyangkut soal pemisahan kekuasaan dalam negara. Hal ini terkait dengan perkembangan di Paris yang rakyatnya mulai mengkritik kekuasaan absolut raja. Bahkan Voltaire menulis karyanya di tempat itu. Ia juga pernah berdiskusi dengan Benjamin Franklin di tempat yang sama

[repost from https://www.kaskus.co.id/thread/55092e830d8b46507b8b456f/antara-kopi-dan-revolusi]

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Archive